Translate

Sabtu, 13 Desember 2014

"Kala Imam Tergoda, Dari Mata Turun ke Hati”

Matahari telah tergelincir. Seorang lelaki terlihat bersegera menuju masjid ketika adzan zuhur dikumandangkan dari sebuah masjid kampus. Lelaki itu berwudhu dan menunaikan shalat nawafil. Lalu ia menjadi makmum di shaff terdepan. Shalat wajib ia laksanakan dengan ruku’ dan sujud yang sempurna. Setelah shalat tak lupa ia memuji nama Tuhannya dan memanjatkan doa untuk dirinya, ibu, ayahnya dan untuk ummat Muhammad saw yang sedang berjihad fii sabilillah.

Sebelum menuju kelas untuk kuliah, lelaki itu menyempatkan diri bersalam-salaman dengan beberapa jamaah lain. Dengan raut wajah yang bersahaja, ia sedekahkan senyum terhadap semua orang yang ditemuinya. Ucapan salam pun ditujukannya kepada para akhwat yang ditemuinya di depan masjid.

Lelaki yang bernama Ali itu kemudian segera memasuki ruang kelasnya. Ia duduk di bangkunya dan mengeluarkan buku berjudul “Langitpun Terguncang’. Buku berisi tentang hari akhir itu dibacanya dengan tekun. Sesekali ia mengerutkan dahi dan dan sesekali ia tersenyum simpul.

Ali sangat suka membaca dan meyukai ilmu Allah yang berhubungan dengan hari akhir karena dengan demikian ia dapat membangkitkan rasa cinta akan kampung akhirat dan tidak terlalu cinta pada dunia. Prinsipnya adalah “Bekerja untuk dunia seakan hidup selamanya dan beribadah untuk akhirat seakan mati esok.”

Sejak setahun belakangan ini, Ali selalu berusaha mencintai akhirat. Sunnah Rasululah saw ia gigit kuat dengan gigi gerahamnya agar tak terjerumus kepada bid’ah. Ali selalu menyibukkan diri dengan segala Islam. Ia sangat membenci sekularisme karena menurutnya, sekulerisme itu tidak masuk akal. Bukankah ummat Islam mengetahui bahwa yang menciptakan adalah Allah swt, lalu mengapa mengganti hukum Tuhannya dengan hukum ciptaan dan pandangan manusia?

Bukankah yang menciptakan lebih mengetahui keadaan fitrah ciptaannya?

Allah swt yang menciptakan, maka sudah barang tentu segala sesuatunya tak dapat dipisahkan dari hukum Allah. Katakan yang halal itu halal dan yang haram itu haram, karena pengetahuan yang demikian datangnya dari sisi Allah.

Sementara Ali membaca bukunya dengan tekun, dua mahasiswi yang duduk tak jauh dari Ali bercakap-cakap membicarakan Ali. Mereka menyayangkan sekali, Ali yang demikian tampan dan juga pintar, namun belum mempunyai pacar, padahal banyak mahassiwi cantik di kampus ini yang suka padanya. Tapi tampaknya Ali tidak ambil peduli. Sikapnya itu membuat para wanita menjadi penasaran dan justru banyak yang ber-tabarruj di hadapannya. Kedua wanita itu terus bercakap-cakap hingga lupa bahwa mereka telah sampai kepada tahap ghibah.

Ali memang tak mau ambil pusing tentang urusan wanita karena ia yakin jodoh di tangan Allah swt. Namun tampaknya iman Ali kali ini benar-benar diuji oleh Allah SWT.

Ali menutup bukunya ketika dosen telah masuk kelas. Tampaknya sang dosen tak sendirian, di belakangnya ada seorang mahasiswi yang kelihatan malu-malu memasuki ruang kelas dan segera duduk di sebelah Ali. Ali merasa belum pernah melihat gadis ini sebelumnya. Saat dosen mengabsen satu persatu, tahulah Ali bahwa gadis itu bernama Nisa.

Tanpa sengaja Ali memandang Nisa. Jantungnya berdegup keras. Bukan lantaran suka, tapi karena Ali selalu menundukkan pandangan pada semua wanita, sesuai perintah Allah SWT dalam Al Qur’an dan Rasulullah saw dalam hadits.

“Astaghfirullah…!”, Ali beristighfar.

Pandangan pertama adalah anugerah atau lampu hijau. Pandangan kedua adalah lampu kuning. Ketiga adalah lampu merah. Ali sangat khawatir bila dari mata turun ke hati karena pandangan mata adalah panah-panah iblis.

***

Pada pertemuan kuliah selanjutnya, Nisa yang sering duduk di sebelah Ali, kian merasa aneh karena Ali tak pernah menatapnya kala berbicara. Ia lalu menanyakan hal itu kepada Utsman, teman dekat Ali. Mendengar penjelasan Utsman, tumbuh rasa kagum Nisa pada Ali.

“Aku akan tundukkan pandangan seperti Ali”, tekad Nisa dalam hati.

Hari demi hari Nisa mendekati Ali. Ia banyak bertanya tentang ilmu agama kepada Ali.
Karena menganggap Nisa adalah ladang da’wah yang potensial, Ali menanggapi dengan senang hati.
Hari berlalu… tanpa sengaja Ali memandang Nisa. Ada bisikan yang berkata, “Sudahlah pandang saja, toh Nisa itu tidak terlau cantik.. Jadi mana mungkin kamu jatuh hati pada gadis seperti itu” Namun bisikan yang lain muncul, “Tundukkan pandanganmu. Ingat Allah! Cantik atau tidak, dia tetaplah wanita.” Ali gundah. “Kurasa, jika memandang Nisa, tak akan membangkitkan syahwat, jadi mana mungkin mata, pikiran dan hatiku ini berzina.”

Sejak itu, Ali terus menjawab pertanyaan-pertanyaan Nisa tentang agama, tanpa ghadhul bashar karena Ali menganggap Nisa sudah seperti adik… , hanya adik.

Ali dan Nisa kian dekat. Banyak hal yang mereka diskusikan. Masalah ummat maupun masalah agama. Bahkan terlalu dekat…
Hampir setiap hari, Ali dapat dengan bebas memandang Nisa. Hari demi hari, minggu demi minggu, tanpa disadarinya, ia hanya memandang satu wanita, NISA! Kala Nisa tak ada, terasa ada yang hilang. Tak ada teman diskusi agama…, tak ada teman berbicara dengan tawa yang renyah.., tak ada…wanita. DEG!!! Jantung Ali berdebar keras, bukan karena takut melanggar perintah Allah, namun karena ada yang berdesir di dalam hati…karena ia… mencintai Nisa.

Bisikan-bisikan itu datang kembali… “Jangan biarkan perasaan ini tumbuh berkembang. Cegahlah sebisamu! Jangan sampai kamu terjerumus zina hati…! Cintamu bukan karena Allah, tapi karena syahwat semata.”

Tapi bisikan lain berkata, “Cinta ini indah bukan? Memang indah! Sayang lho jika masa muda dilewatkan dengan ibadah saja. Kapan lagi kamu dapat melewati masa kampus dengan manis. Lagipula jika kamu pacaran kan secara sehat, secara Islami.. ‘Tul nggak!”

Ali mengangguk-anggukkan kepalanya. “Manalah ada pacaran Islami, bahkan hatimu akan berzina dengan hubungan itu. Matamu juga berzina karena memandangnya dengan syahwat. Hubungan yang halal hanyalah pernikahan. Lain itu tidak!!! Bukankah salah satu tujuan pernikahan adalah untuk mengubur zina?”, bisikan yang pertama terdengar lagi.

Terdengar lagi bisikan yang lain, “Terlalu banyak aturan! Begini zina, begitu zina. Jika langsung menikah, bagaimana bila tidak cocok? Bukankah harus ada penjajakan dulu agar saling mengenal! Apatah lagi kamu baru kuliah tingkat satu. Nikah susah!”

Terdengar bantahan, “Benci karena Allah, cinta karena Allah. Jika pernikahanmu karena Allah, Insya Allah, Dia akan ridho padamu, dan akan sakinah keluargamu. Percayalah pada Tuhan penciptamu! Allah telah tentukan jodohmu. Contohlah Rasululah SAW, hubungan beliau dengan wanita hanya pernikahan.”

Bisikan lain berkata. “Bla.., bla.., Ali,… masa muda.., masa muda…, jangan sampai dilewatkan, sayang lho!”
Ali berpikir keras. Kali ini imannya benar-benar dilanda godaan hebat. Syetan telah berhasil membujuknya dengan perangkapnya yang selalu sukses sepanjang zaman, yaitu wanita.

Ali mengangkat gagang telepon. Jari-jarinya bergetar menekan nomor telepon Nisa. “Aah.., aku tidak berani.” Ali menutup telepon.

Bisikan itu datang lagi, “Menyatakannya, lewat surat saja, supaya romantis…!” “Aha! Benar! “ Ali mengambil selembar kertas dan menuliskan isi hatinya. Ia berencana akan menitipkannya pada teman dekat Nisa. Jantung Ali berdebar ketika dari kejauhan ia melihat Nisa terlihat menerima surat dari temannya dan membaca surat itu.

***

Esoknya, Utsman mengantarkan surat balasan dari Nisa untuk Ali, sembari berkata, “Nisa hari ini sudah pakai jilbab, dia jadi cantik lho. Sudah jadi akhwat!”

Ali terkejut mendengarnya, namun rasa penasarannya membuatnya lebih memilih untuk membaca surat itu terlebih dahulu daripada merenungi ucapan Ustman tadi. Ali membaca surat itu dengan sungguh-sungguh. Ia benar-benar tak menyangka akan penolakan yang bersahaja namun cukup membuatnya merasa ditampar keras. Nisa menuliskan beberapa ayat dari Al Qur’an, isinya :

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An Nuur : 30)


“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”(QS. Al Mu’minuun : 19).


Ali menghela nafas panjang… Astaghfirullah… Astaghfirullah… Hanya ucapan istighfar yang keluar dari bibirnya. Pandangan khianatku sungguh terlarang. Memandang wanita yang bukan muhrim. Ya Allah… kami dengar dan kami taat. Astaghfirullah… 

Pelabuhan Cinta

wahai ENGKAU sang pemilik cinta

jatuh dan tenggelamkan aku dalam cintaMU

hingga tak ada seorangpun dari aku yang mampu mengusik kekhusukanku

guna meraih kasih dan sayangMU

duhai ENGKAU sang pemilik rasa

sibukanlah aku dalam rindu akan hadirMU

sehingga diri ini senantiasa berdandan dengan tahmid dan tasbihMU

guna menggapai pertemuan yang sangat indah denganMU,

ya Robbana,,

sesungguhnya cinta ini adalah cintaMU

rindu ini adalah rinduMU

maka ijinkan aku untuk melabuhkan segala rasaku hanya kepadaMU

karena hanya ENGKAU yang patut memilikinya

ya Rohman,,ya Rakhim

dengan kasih dan sayang yang KAU miliki

aku mohon jagalah rasa dalam jiwaku

agar tak pernah berpaling dariMU

Sabtu, 06 Desember 2014

Help Me Go Away Is...

Salahkah bila aku masih mencintaimu?”

Untuk hati yang pernah singgah di hidupku,

Aku masih ingat betul bagaimana awal pertemuan kita dulu. Cukup sederhana walau aku telah lupa alur ceritanya. Aku yang mengenalmu dengan hati yang tulus dengan cinta yang ala kadarnya, begitu juga denganmu. Aku tahu, pertemuan petama kita itu adalah sebuah hipnotis yang mampu melumpuhkan hatiku dan hatimu, menurutku begitu. Bagaimana tidak? Sejak pertemuan yang pertama itu ada rasa yang sama menjamah hati kita masing-masing. Aku menyebutnya rasa CINTA. Ya cinta itu hadir dengan sendirinya atas restu Allah. Dan apa salah dengan cinta ini yang tiba-tiba hadir di hati kita? Aku pikir tidak. Sebab dengan cinta, hatiku serasa sudah menyatu dengan hatimu. Walau aku tidak tahu bagaimana nanti jalan kedepannya.

Lalu, karena takut ketahuan orangtuaku. Akhirnya aku sembunyi-sembunyi untuk menjalani cinta ini. Tentunya kamu juga ingat liku-liku yang harus kita hadapi saat aku harus fokus dengan belajarku dan kamu fokus dengan pekerjaanmu. Bahkan untuk bertemu pun sebulan hanya 2 atau 3 kali saja. Terkadang kita bertemu hanya lewat via telefon saja dikarenakan jarak kita memang jauh. Kamu tahu bagaimana rinduku saat itu? Sangat rindu sekali padamu. Namun aku tetap bertahan, karena hati ini terlanjur setia memilihmu. Dan aku, aku berkomitmen pada diriku sendiri. Tidak mudah menjalani LDR seperti ini. Aku menerapkan empat kunci untuk hubungan kita, kejujuran, saling percaya, pengertian, dan kesetiaan. Tanpa aku minta pun kamu juga menerapkan itu. Waktu itu aku merasa orang yang paling bahagia yang pernah memilikimu.

Hingga beberapa bulan kemudian, kamu beranikan diri untuk memperkenalkan dirimu di hadapan kedua orangtuaku. Sungguh ini diluar dugaanku. Mereka menyambutmu dengan hangat dan memberi tanda lampu hijau yang artinya setuju. Setuju atas hubungan ini. Ya, kita menjalaninya seperti air mengalir dan waktu yang berputar. Hingga aku putuskan untuk merantau mencari kehidupan yang baru. Aku ingin mengetahui dunia yang lain itu. Entah apa alasanmu, kau memutuskanku dengan alasan yang sebenarnya tidak bisa aku fahami. Sejujurnya aku tidak terima itu. Namun kau tetap bertahan dengan keputusanmu. Sampai tiba hukum karma itu terjadi yang waktu itu kecelakaan menimpa dirimu.
Saat itu air mata ini tidak bisa aku bendung setelah membaca pesan darimu yang tertulis di layar handphoneku.
“Dek, do`akan mas. Besuk mas akan operasi.”

Seperti mendengar petir di siang hari. Seluruh tubuh ini rasanya lemas dan aku bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan dirimu? Lalu aku menelefonmu yang waktu itu paklik yang mengangkat. Beliau menceritakan bahwa, kamu kecelakaan kemarin sore. Seketika aku shock dan ingin menjengukmu di rumah sakit. Tapi paklik melarangku, sebab waktu itu kamu dirawat di rumah sakit Solo. Sebenarnya sangat mudah bagiku untuk menyalahkanmu atas alasanmu yang melukaiku dan meninggalkanmu waktu itu. Namun hati ini tidak bisa dan di hati ini masih ada namamu. Masih ada sayang untukmu, cinta, juga rindu semua milikmu.

Dua hari kemudian setelah kamu dibawa pulang ke Ngawi, aku sempatkan untuk datang menjengukmu yang saat itu kita sudah tidak ada hubungan sama sekali.

Apa kamu tahu apa yang aku rasakan saat melihatmu terbaring di atas kasur yang tak berdaya itu? Air mata ini sungguh tidak bisa aku bendung. Aku ingin memelukmu, aku ingin merawatmu, aku juga ingin menemanimu sampai kamu sembuh. Hati ini juga sakit melihatmu terbaring tak berdaya. Pikirku, inikah hukum karma itu. Di sisi hati aku merasa lega, karena kita sama. Sama-sama merasakan luka, aku luka pada hatiku, dan kamu luka pada jiwamu. Mungkin aku terlalu jahat jika berfikir seperti itu. Di sisi lain aku juga masih sayang denganmu. Entah apa yang membuat aku masih bertahan denganmu, yang jelas-jelas sudah melukai hatiku. Hingga setelah kecelakaan itu, aku putuskan untuk merantau dan meninggalkanmu disini bersama luka. Tapi apa kamu pikir kamu saja yang terluka, aku pergi juga membawa hati yang luka dan lebih parah darimu.

Dua tahun itu bukanlah waktu yang singkat untuk kita berpisah. Mungkin jika kita mau, kita bisa menemukan seseorang yang lebih bisa memahami hati kita masing-masing. Dan seiiring berjalannya waktu, mungkin kita bisa melupakan hati yang pernah kita miliki dulu. Kenyataannya tak semudah yang aku bayangkan. Saat ini memang tidak ada satu pun yang bisa menggantikan posisimu di hatiku, sekalipun itu orang yang lebih baik darimu, lebih kaya darimu. Jujur, memang tidak ada. Pernah aku mencoba untuk melupakanmu dan mencari penggantimu. Sayang, berkali-kali aku mencarinya, aku juga semakin setia padamu, aku semakin sayang padamu. Sampai aku berfikir dengan kadar ukuran otakku, “Mungkin kita jodoh. Tapi entahlah rahasia ALLAH itu lebih indah dari pikiran juga rencana kita.”

Kamu tidak pernah tahu apa yang aku rasakan selama dua tahun itu, aku sangat merindukanmu dan perasaan ini aku pendam sendiri. Sampai suatu saat aku harus pulang ke kampung halamanku, sebab ada sesuatu hal yang membuatku harus pulang. Aku pulang? Ya saat itu cintaku juga pulang untuk menemuimu kembali. Untuk kembali menyandarkan hati ini atau justru aku akan meninggalkamu, entahlah. Yang aku tahu, aku semakin mengharapkanmu untuk kembali kepadaku lagi.

Benar. Dugaanku benar. Kamu kembali kepadaku lagi dan alasan yang kamu buat dulu itu sudah tidak berlaku. Aku tersenyum lebar dan aku menang. Ya, aku menang atas pertandingan rasa ini. Sejak kepulanganku itu, kamu semakin rajin untuk datang ke rumahku. Sambutan hangat dari kedua orangtuaku sama sekali tidak berubah dan masih sama seperti dulu. Bahkan semakin hari, baik dari keluargamu atau keluargaku juga sudah merestui hubungan kita. Aku semakin semangat untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih halal, tentunya dalam ikatan suci dan membina rumah tangga bersamamu. Kita akan menciptakan keluarga yang harmonis, keluarga bahagia, dan keluarga yang aku harapkan bersamamu.

Tapi, tiba-tiba hatiku kacau, hatiku sedikit bimbang setelah beberapa kali dihantui oleh mimpi yang menurutku itu pertanda dari ALLAH. Tentunya kamu ingat, dulu aku pernah bercerita tentang mimpi itu. Masih jelas sekali di dalam ingatanku. Mimpi itu aku menikah denganmu, aku telah kamu khitbah dan kita merayakan pernikahan kita dengan bahagia. Aku sangat bahagia, sebab kamu telah menghalaliku walau hanya dalam mimpi. Apa kamu tahu, mimpi itu bukan hanya satu kali aku rasakan. Namun mimpi itu hadir berkali-kali dalam tidurku dan mimpi itu sama. Aku menikah denganmu. Jika kamu ada di posisiku, mungkin kamu juga akan merasa tersiksa atas mimpi itu dan akan mencari arti dari mimpi itu.

Sampai waktu terus berjalan yang seperti kereta. Tanpa peduli dengan stasiun yang ditinggalkannya. Yang ada ia terus melaju menuju stasiun selanjutnya dan ia akan menemukan kehidupan yang baru. Apa kamu masih ingat juga sebuah coklat hasil buatanmu sendiri yang kamu berikan padaku. Bukan soal rasanya, namun ada secoret tulisan yang kamu hiaskan di atasnya, “Do you want marry me?” Airmata ini hanya mampu menetes. Sebab bahagia yang menyelimutiku akan menjadi kenyataan. Dan pelaminan sebentar lagi akan menjadi istana kita. Aku yang bagaikan ratu fortuna dan kamu raja tertampan yang aku kenal. Bukan tampan dari fisik dan jiwamu, melainkan tampan dari segi hati dan kepribadianmu. Yakinlah, selangkah lagi kita akan menggenggam erat selah-selah jemari ini menuju kehidupan yang sakinah, mawadah, dan warahmah.
Hingga suatu hari kau berpesan padaku, “Dek, bilang ke bapak ibu. Aku ingin bicara sesuatu kepada mereka tentang hubungan kita ini.” Seketika aku langsung mengiyakan dan memberitahu kepada bapak ibu. Lalu beberapa waktu kemudian kamu menepati janjimu datang di hadapan bapak ibu dan aku. Tentunya kamu masih ingat dulu, apa yang kamu katakan waktu itu,
“Bapak, ibu sebenarnya kedatangan saya kesini mau mengajak Airin untuk hidup bersama saya. Jika bapak dan ibu mengizinkan, saya mau melamar Airin.” Katamu waktu itu. Setelah mendengar pengakuanmu itu, bapak langsung memberikan jawaban yang cukup sederhana dan bijak.
“Sejujurnya bapak tidak menolak niat baikmu Is, dan bapak juga belum menerimamu. Kalau memang niatmu serius, tunggu Airin dua tahun lagi. Sebab dia mau kerja dulu.”
“Insyaallah saya sanggup menunggu Airin,” tegasmu waktu itu.
Saat itu hatiku ingin berteriak bahagia. Karena sebentar lagi aku akan menjadi istrimu. Tentunya aku akan berusaha menjadi istri yang solehah buatmu. Inilah yang aku tunggu darimu, selama 5 tahun dalam hubungan kita. Keseriusanmu ingin menikahiku. Tapi waktu itu, hatiku sempat ragu. Apa kamu kuat menungguku selama dua tahun. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat seperti dua hari untukmu menungguku. Kamu tahu itu bukan? Namun kepercayaan dan komitmen itu masih kamu pegang, dan kamu akan menungguku pulang.

Atas niat, tekat dan mimpiku ingin menjadi separuh dari hatimu, akhirnya aku putuskan untuk berangkat juga menjelajahi negara lain yang sebelumnya memang tidak pernah terpikir olehku. Berat. Itulah yang aku rasakan saat berpisah denganu. Tapi semua itu aku lakukan demi kebahagiaan orantuaku dan juga kamu, tentunya.

Satu, dua, tiga bulan kita masih berhubungan seperti biasa. Kita saling telefon dan curhat tentang dirimu atau diriku. Bahkan tentang rindu dan cinta ini yang semakin lama semakin terpendam untuk kita ceritakan. Delapan bulan sudah kita menjalani semua ini dengan baik-baik saja. Hingga memasuki bulan ke Sembilan akhir, suatu masalah muncul di antara kita. Persimpangan itu harus hadir untuk kita. Persimpangan yang tidak akan ketemu titik satunya. Hanya ego dan nafsu kita yang berbicara. Waktu itu kamu selalu bilang padaku. Nanti kalau aku pulang, aku tidak boleh bekerja lagi. Padahal sejujurnya dalam hatiku masih mau membahagiakan orangtuaku dulu, mau menepati janjiku dulu. Kamu tahu bukan kalau aku hanya anak semata wayang dan kalau bukan aku siapa lagi yang akan membahagiakan mereka? Itulah yang selalu kamu ucapkan padaku, yang jelas-jelas aku belum waktunya untuk pulang.

Suatu hari kita sempat bertengkar di telefon. Masih kamu ingat waktu itu?
“Dek, nanti kalau kamu pulang kita langsung nikah pokoknya.”
“Apa kita gak tunangan dulu mas. Nanti setelah tunangan, aku bekerja lagi satu atau dua tahun terus punya modal buat meresmikan pernikahan kita.”
“Gak mau! Pokoknya kamu pulang kita nikah.”
“Mas. Mas tahu sendiri kan, aku kerja buat orangtua, buat merenovasi rumah. Itu keinginan bapak ibu. Terus aku pikir aku belum punya tabungan sendiri, dan kamu tahu gimana adat jawa jika anak semata wayang itu menikah? Pasti biayanya gak sedikit mas. Kamu faham itu kan?”
“Pokoknya aku gak mau kamu kerja lagi. Aku mau kita nikah dan kamu tinggal di rumah”
“Gimana kalau kita tukar cincin dulu. Aku juga sudah bilang sama bapak ibu soal ini.”
“Gak! Pokoknya langsung nikah. Tapi kalau mau adik seperti itu, mas gak kuat nunggu dek. Mungkin hubungan kita cukup disini.”
DEG. Hatiku seakan berhenti mendengar ancaman kamu waktu itu. 5 tahun lamanya aku pertahankan semua ini demi kamu, tapi kamu menjawab enteng seperti itu. Kamu langsung mengambil keputusan tanpa berfikir panjang lagi dan mencari solusi yang lain. Mungkin kamu pikir ini sudah jalan keluar yang terakhir, namun menurutku ini belum. Ini tidak adil bagiku. Atau memang kamu sudah punya penggantiku yang lain, yang lebih dari aku. Kalau iya, kenapa kamu tidak jujur padaku? Kenapa kamu buat aku seperti ini. Kamu tahu 5 tahun itu bukan waktu yang singkat untuk pertemuan kita ini.

Akhirnya aku langsung telefon bapak ibu soal keputusanmu ini. Mereka sudah menyerahkan semua ini kepadaku. Apa kamu tahu? Aku di ambang kebimbangan untuk memutuskan pilihanku. Aku akan menuruti kemauanmu dan itu artinya aku harus merelakan mimpiku untuk membahagiakan orangtuaku. Atau aku akan bekerja lagi demi kebahagiaan orangtuaku dan harus kehilanganmu. Sungguh ini pilihan yang sangat berat. Beberapa saat kemudian kamu menghubungiku lagi. Kamu memang benar-benar egois, tanpa memberiku waktu untuk berfikir lagi. Ya, seketika itu aku memutuskan dengan egoku dan hanya mengikuti nafsuku.
“Mas. Sekali ini saja. Kalau aku pulang nanti, kita tunangan dulu ya? Tolonglah fahami aku.”
“Ya sudah kalau keputusan adik seperti itu. Maaf mas tidak bisa meneruskan hubungan ini. Semoga kamu bahagia dengan hidupmu. Maafkan mas dek.” Kamu langsung menutup telefon itu.

Sakit. Luka. Perih. Itu yang aku rasakan. Bagaimana tidak, kamu melukaiku untuk yang kedua kalinya dan ini lebih parah dari yang dulu. Jujur, airmata ini tidak bisa aku bendung. Maaf aku tidak setegar yang kamu kira. Bahkan waktu itu kamu tidak memikirkan bagaimana hancur hatiku dan lemahnya jiwaku. Sebenarnya kata “khitbah” itu yang aku tunggu, tapi yang kamu berikan kata “pisah”. Jika kata-katamu dulu yang ingin mengkhitbahku tidak kamu ucapkan, mungkin hatiku tidak sesakit ini. Aku seketika langsung telefon ibu dan aku menangis sejadi-jadinya. Kamu tahu apa yang dirasakan bapak ibuku waktu itu? Sama denganku. Tapi mereka masih bisa tegar, masih bisa sabar. Mereka hanya mengambil hikmah di balik semua ini. Memang benar mimpiku yang lalu pertanda atas kejadian ini. Aku juga masih ingat kata-kata ibu yang berusaha membuatku tenang, “Sudahlah nduk, semua ini memang sudah rencana Allah. Mungkin Allah akan mempersiapkan yang lebih baik dari dia. Sudah ikhlaskan semua ini dan husnudzon saja.” Tapi aku belum terima itu. Aku belum terima atas keputusanmu dengan keegoisan kita. Aku benci kamu! Aku ingin marah padamu! Tapi apa daya, semua sudah menjadi bubur.

Dua hari kemudian aku mendengar kabar bahwa kamu sudah bertunangan dengan orang lain. Bayangkan dua hari itu waktu yang sangat singkat bagiku untuk mendengar semua ini. Kamu sungguh jahat! Kamu berani melukai hatiku lagi! Dan aku benci kamu! Jangan salahkan aku jika aku harus membencimu. Jika aku masih cemburu padamu. Karena aku hanya manusia yang punya hati, punya rasa, juga aku bukan Tuhan. Sungguh ini tidak adil bagiku. Atau memang benar, sebelum kejadian ini kamu sudah menyimpan sekuntum bunga dan kamu letakkan di sisi hatimu yang kiri. Kalau memang iya. Dimana perasaanmu saat kamu melakukan itu. Apa kesalahanku? Aku benci kamu Is!

Untuk hati yang pernah singgah di hidupku

Salahkah aku yang mencintaimu selama ini? Salahkah aku yang ingin hidup bersamamu? Salahkah pula aku atas pilihanku padamu ini? Tapi kenapa ada persimpangan yang membuat kita selalu menjadi anak kecil. Hanya keegoisan saja yang kita unggulkan. Tidakkah kita berfikir sedikit dewasa? Bukankah cinta ini adalah anugerah dari sang illahi. Karena dengan cinta kita bisa menyayangi sesama, kita bisa mengasihi sesama dan tentunya antara aku dan kamu. Dimanakah letak salahnya cinta ini?

Jujur aku tidak rela kamu memilih yang lain dan begitu saja mempermainkanku. Aku tidak terima! Aku ingin kamu tanggung jawab atas luka ini! Mungkin kamu pikir aku sangat egois. Benar, aku egois karena luka yang kamu berikan padaku. Hingga aku seperti orang gila yang selalu mencintaimu dan selalu mengharap hadirmu untuk mengkhitbahku. Suatu keajaiban berpindah padaku, untuk membuka hatimu kembali untukku.

Satu tahun bukanlah waktu yang singkat bagiku untuk melupakanmu. Aku tahu kamu sudah menikahi orang lain dan kamu sudah hidup bahagia dengannya. Tapi aku yang disini, masih setia mencintaimu, masih setia menyayangimu. Entah kenapa aku tidak bisa melupakanmu walau hatiku sudah kamu buat hancur. Sakit hati ini masih membekas, namun cinta ini masih berkuasa untuk mencintaimu selalu. Biarkan cinta ini aku pendam sendiri dan entah sampai kapan posisi cintamu bisa tergantikan oleh yang lain.

Untuk hati yang pernah singgah di hidupku,

Ajariku cara melupakan cintamu. Ajariku cara menghapus jejakmu di hatiku. Ajariku pula untuk terus bertahan tanpa hadirmu. Atau mungkin lumpuhkan ingatanku tentangmu, tentang kita, dan juga kenangan yang pernah ada. Sebab sakit ini belum juga sembuh. Terlalu dalam luka yang kamu berikan padaku.

Senin, 06 Oktober 2014

Bila Aku Tiada

Bila sampai waktu ku tiba tak jua kau temukan bahagia...
Pilih lah jalan yg lebih indah untukmu..
Karna ku bukanlah yg sempurna
Dan jangan pernah kau bersedih karnanya....

Tapi,,
Tersenyumlah saat ku tak lagi bisa bersama mu
Karna kan selalu kutitipkan rindu untukmu dalam tiap detik perjalanan waktu..

Mungkin raga tak lagi mampu kau sentuh
Tapi senyum keindahan kan selalu untukmu....
Aku bukan pecinta sejati tapi kan ku ukir sebuah mimpi sebelum aku pergi...
Tuk selalu temani hidupmu walau tak bersamaku....

Kamis, 25 September 2014

Jadilah Masa Laluku, Selamanya

    Sekarang aku ingin menghapusnya, menghapusnya dari hidupku, menghapusnya dari fikiranku, dan tentu saja aku ingin menghapusnya dari hatiku, namun itu bukanlah hal yang mudah. Jika tiba saatnya aku telah lupa, ku harap kau tak pernah kembali, izinkan aku menjadikanmu masa laluku.

   Seperti inikah rasanya cinta itu, atau ini bukan lagi dinamakan cinta, mungkin ini hanya sebuah perasaan tak jelas, yang berharap tentang sesuatu yang tak jelas kepada orang yang tak jelas.

  Semula malam itu aku baik baik saja, langit malam pun baik baik saja, masih berbintang seperti biasanya, masih ingin menemaniku dengan kerlap-kerlipnya, namun tiba tiba keindahan itu memudar, kabur dan tak jelas. Ya… aku mulai menyadari semua ketidak jelasan itu, saat percakapan di telfon dengan nya. Tak disangka itu adalah percakapan terakhirku denganya, tepatnya, akulah yang menyebutnya percakapan terakhir, percakapan dengan orang yang entah kapan berhenti membuat hatiku terasa sakit ketika mengingatnya.

      Rifki bukanlah orang yang begitu spesial, dia tidak tampan, tidak hebat, tidak kaya, dan tidak punya sesuatu yang patut dikagumi. Mungkin di dunia ini hanya aku yang mengaguminya, aku mengaguminya, bukan karena prestasinya, bukan karena wajahnya, bukan karena materi, kekagumanku berasal dari caranya merebut hatiku. Pintar.

     Dialah orang yang memberi ku segunung senyuman dua tahun lalu, dan dia juga orang yang melenyapkan gunung itu, dengan sakit yang masih ku rasakan hingga sekarang. Namun entah kenapa aku tak bisa berhenti mengharapkanya. Buktinya sejak dua tahun aku berpisah denganya, belum ada satu pun nama yang bisa menggantikanya di hatiku, layaknya nama itu telah tertancap, begitu dalam, mengakar, dan subur. tapi rifki tak melihat itu, dia hanya tau tentang siapa aku sekarang, ya!, aku adalah masa lalunya, atau mungkin juga dia sudah tak tau lagi siapa aku. Ini begitu membuatku semakin tercekat, perih rasanya.

      Malam itu hujan turun begitu deras, bahkan air sudah mulai menggenang di pekarangan, sudah tak tampak lagi bunga bunga kecil yang mengelilingi tepinya. Aku tak tau, kenapa hatiku menjadi dingin seperti hujan, rasanya begitu basah, hampa. Inikah rindu itu?, rindu tentang sebuah nama, masih nama yang sama, “Rifki”. Entahlah rasanya hanya dia yang bisa membuatku merasa hangat kala itu, aku tak tau apa yang seharusnya aku lakukan, aku tak tau, apa aku harus menghubunginya, atau tetap menahan kehampaan ini, hingga terasa begitu memilukan. Malam itu, aku putuskan untuk menghubunginya.
“Hallo”
“Hallo” ini dia, ini Rifki, suaranya, hatiku begitu akrab denganya, hatiku mengembang, bahagia sekali.
“Hallo”, aku masih mematung, suaraku tak mampu ku keluarkan, udara kali ini benar-benar begitu dingin, hingga mulutku beku, tak sanggup ku gerakkan.
Namun sudah terlambat untuk tetap terdiam, aku tak mungkin biarkan orang di ujung telfon ini bingung atas kediaman ku, aku pompa seluruh keberanianku untuk bersuara kepadanya.
“I MISS YOU” .
“hah, apa?”
Sungguh, aku tak habis pikir, kenapa kalimat itu, dan kenapa hanya itu. Aku tak habis fikir dengan diriku sendiri, begitu menggenaskannya kah aku, hingga tak bisa memilih kalimat lain untuk ku ucapkan. Aku sungguh gugup, tak tau apa yang harus ku katakan selanjutnya, sedangkan rifki di ujung sana tampaknya begitu terkejut mendengar pernyataan ku, pernyataan dari orang yang sudah menjadi masa lalunya.
Aku tak berani untuk berkata lebih banyak lagi, aku putuskan untuk mematikan telfon, lalu sejuta fikiran berkecamuk di dalam benak ku. Apakah rifki akan menanggapi pernyataan memalukan itu dengan serius, atau hanya melupakanya, menganggapnya tidak pernah terjadi. Tidak, aku harus menjelaskanya, tapi bagaimana?, apa yang harus ku jelaskan, dan jangan-jangan rifki membenciku, karena menyatakan hal bodoh seperti itu, aaah sudahlah, biarkan saja, bukan itu yang terpenting saat ini, sekarang aku hanya tak boleh menghubunginya, apa pun itu, baik di media sosial atau telfon, bahkan sms sekalipun. Ku harap dia lupa dengan hari ini.

“semalam kamu nelfon siapa yan?”
“hah, nelfon, maksudnya?”
“iyaa, yang I MISS U itu,”
“ooh, Rifki.”
“lho, Rifki lagi, kok kamu bilang I MISS U sama cowok itu lagi sih, bukanya udah mau ngelupain, oh ya, dia nanggepin ngak?, dia bilang apa?, dia udah punya cewek atau belum sih?…” pertanyaan terakhir itu membuatku terdiam, aku lupa, kalau aku tidak pernah bertanya kepada rifki, apakah sudah ada wanita lain di hatinya, atau belum. Bagaimana aku bisa lupa dengan hal sepenting itu, haah, semua tentang laki laki itu benar benar tak jelas oleh ku.
“woy, yan, yan, hellooo” lambaian tangan Ica membawa ku kembali sadar, setelah lamunan singkat yang membuat perasaan ku menjadi tak menentu ini, benar benar tak menentu.
“yan, mending kamu Tanya dulu deh, sama dia. Dia masih sendiri atau ngak, aku ngerti banget kok, gimana perasaan kamu sama rifki. Dari pada gini trus, serba nggak jelas, lebih baik kamu tanya dulu sama dia, kasian kan, orang orang yang mau ngedeketin kamu, pada kena tolak semua, gara-gara dia”

     Begitulah, sudah seminggu sejak terakhir aku menghubunginya, tak ada tanggapan, tak ada sms, tak ada apa apa. Apa sebenarnya yang terjadi dengan diriku aku sendiri merasa heran, setiap hari setelah malam itu, aku selalu menunggu tanggapan darinya, tanggapan dari ungkapan tulusku yang keluar begitu saja. Namun sepertinya dugaan ku malam itu benar, rifki, tak menganggap kejadian itu pernah ada, mungkin juga dia sudah menganggapku tidak ada. entahlah, mingkin aku yang sudah tak waras, karena berpura-pura tak sadar, bahwa dia sudah benar benar melupakan ku.

Sabtu malam, 28 desember 2013
      “Yan, gimana kabarnya? Maaf ya, aku jarang hubungin kamu, belakangan ini aku sibuk. Kamu ngak marah kan?”
Ada apa ini, rifki tiba tiba menanyai kabarku, ini benar benar tak pernah terbayangkan oleh ku. Bagiku rifki adalah orang yang tak pernah melihat usaha ku untuk bisa dekat denganya, bagiku rifki adalah orang yang benar benar buta tentang diriku, jangankan menanyai kabarku, bahkan belakangan ini aku selalu mengiriminya sms, namun tak pernah ada balasan. Pesan terakhir yang pernah ku terima darinya adalah ketika dia sedang ada di rumah sakit beberapa minggu yang lalu, dan setelah itu nihil. Aku senang, namun juga heran, kenapa sikapnya berubah hangat, ada apa gerangan?
“kabarku baik rif, kamu gimana?”
“aku juga baik yan, oh ya, tahun baru kemana? Ada acara ngak?, kamu mau ngak tahun baruan sama aku?”
Tuhan, kenapa ini semakin membingungkan saja, apa lagi yang akan terjadi selanjutnya. Sikap baik rifki yang begitu tiba-tiba, membuatku benar-benar tak mengerti apa yang harus aku lakukan, akankah aku menerima tawaranya, atau menolaknya. Di suatu sisi aku begitu ingin menerima ajakan spesial itu, tapi aku ragu, karena sejak dua tahu lalu, aku tak pernah sedekat ini dengan rifki. Tiba tiba aku sadar tentang sesuatu, sesuatu tentang rifki, kenapa dia hadir hanya saat ingin meminta sesuatu dariku. Kedatanganya kali ini persis sama dengan saat ia memberitahuku kalau dia ada di rumah sakit, dia memintaku untuk datang kesana, karena tak ada yang menemaninya di rumah sakit, dia meminta ku ini dan itu, dan aku selalu saja memenuhi permintaan-permintaan itu, namun dia selalu tidak ada saat aku membutuhkanya.

     Aku teringat akan perkataan Ica tempo hari, aku harus menanyainya, tentang kejelasan cerita antara aku dan rifki. Aku menjadi begitu penasaran, tentang arti kedekatanku denganya selama ini, aku ingin tau apa arti ajakan ini sebenarnya, apakah dia tak melupakanku, apakah aku masih ada di matanya, dan apakah perasaan dihatinya masih ada untuk ku, ataukah aku hanya pelarianya ketika tak ada yang lain.
“Rif, sebelumnya aku boleh ngomong sesuatu ngak?”
“iya yan, ngomong apa?”
“kenapa sih rif, kamu ada Cuma saat kamu butuh aku aja, nah kalo kamu ngak butuh, kamu cuek?”
“jangan marah marah dong yan.. ngak baik lho, aku ngak cuek kok sama kamu, Cuma aku lagi sibuk aja”
“Rif, aku mau nanya sesuatu sama kamu”
“iya, yan, kamu mau nanya apa?”
“Rif, maaf kalo aku tiba-tiba nanya ini sama kamu, aku pengen tau arti kedekatan kita selama ini, aku pengen tau gimana perasaan kamu terhadapku, aku tau kamu bakalan heran, tapi aku punya alasan sendiri untuk ini, aku akan terima jawaban apapun dari kamu, sekalipun itu menyakitkan. Semua ketidak jelasan ini membuatku lelah” Jari jariku terasa begitu kaku, entah dari mana asal keberanian itu, aku tak tau. Sungguh, kata kata itu mengalir begitu saja, seakan jari-jariku sudah tau ingin menuliskan apa.

    Setelah aku mengirim sms itu, mataku tak lepas-lepasnya memandang ke layar kecil di genggamanku, aku begitu penasaran jawaban apa yang akan dia berikan, aku ingin tau.
“aku ngak ngerti maksud kamu, bisa lebih singkat ngak?”
Sebenarnya aku hanya ingin menyampaikan, kalau aku masih menyukainya, masih adakah aku di hati nya, bisakah aku dan rifki kembali lagi seperti dulu, namun aku tak sanggup seterus terang itu, aku tak seberani itu. Tapi permintaan rifki membuatku sedikit kehilangan kesabaranku, aku tau dia tak sebodoh itu, bahkan kata kataku di sms itu sudah sangat jelas, lalu kenapa dia masih ingin yang lebih singkat?
“ya ampun, rif, aku ngak tau lagi harus ngomong apa, itulah semua yang dapat aku bilang sama kamu, ngak ada yang lebih singkat lagi. Aku Cuma mau bilang, kalo kamu emang udah dewasa, seharusnya kamu ngerti, jawablah dengan caramu, apapun itu aku terima.”
Aku sungguh gemetar saat itu, ini lebih sulit dari yang ku kira, kufikir rifki akan langsung menjawabnya, sehingga aku bisa menentukan keputusan ku selanjutnya, akan mengakhiri ini, atau melanjutkanya. Namun rifki membuat ini semakin sulit. sudah 10 menit aku menunggu, tak jua ada balasan.
“hmm”. Hanya itu balasan rifki atas pertanyaan ku, hanya itukah yang dapat dia tunjukan padaku? pada orang yang sekarang nafasnya terasa berat, padaku yang sudah susah payah memberanikan diri untuk bertanya tentang hal sesensitif itu. Aku tak percaya.
   “Rif, itu bukan jawaban, aku menunggu!” lagi-lagi akulah yang menunggunya, setelah sekian lama, aku selalu dibuat menunggu, dan sekarang dia membuatku menunggu lagi, menunggu kata yang mungkin akan mengecewakan, aku sudah menyiapkan diri untuk hal itu, aku tak takut. Sudah 20 menit berlalu, tak ada apa-apa, rifki tak bersuara. Dia diam bersama malam yang menua. Aku masih menunggu, ini sudah pukul 00:35, aku tak peduli.

Minggu dini hari 01:12,
        masih belum ada tanda apa-apa dari rifki, hatiku begitu sesak, semua kenangan pilu tentangnya kembali menghujaniku, tentang aku yang selalu diabaikan, tentang aku yang masih mengharapkan nya selama 2 tahun, tentang aku yang selalu dibuat menunggu. Aku tak tahan lagi, semua perasaan ku tercurah lewat butir-butir hangat yang mengalir deras, rasanya sakit. Aku sudah menangis sejadi jadinya malam ini, hatiku sedikit lega. Sekarang aku sadar bagaimana perasaanya terhadapku, ternyata dugaan ku selama ini tak ada yang salah, aku benar, aku adalah masa lalunya. Namun hatiku masih belum bisa pergi, ia masih ingin mendengar jawaban rifki, ia masih meronta, akhirnya ku beri dia kesempatan terakhir.
       “Rifki, aku masih menunggu jawabanmu, aku akan menunggu jawabanmu sampai besok pagi, jika kamu tetap diam, terserah lah. Namun semua tindakanmu akan menunjukan siapa kamu sesungguhnya. Thank’s for nothing” Itu adalah terakhir kali aku mengiriminya sebuah pesan, dan tak akan ada lagi pesan yang lain. Aku telah menangis sejadi jadinya malam itu, dan aku tak ingin menangis lagi, aku akhiri. Jika rifki sudah benar-benar menjadikanku masa lalu, lalu kenapa aku tidak. Rasa sakit yang ia tinggalkan, sudah sangat cukup untuk alasan aku melupakanya. Semua tentang laki laki bernama rifki itu sudah tak ada lagi, aku benar benar sudah tak kenal dia, aku tak ingin mengenalnya, dan tak akan mengenalnya kembali.

     Saat ini aku sudah melupakanmu, bahkan hatiku juga, sekarang pergilah, dan jangan kembali.

Minggu, 14 September 2014

KAMU MASIH DISINI...


Ketika aku mulai merindu, mulai belajar mencintaimu....kamu mulai menjauhiku dengan alasan yang tak pernah aku ketahui. Hingga aku belajar melupakanmu, karna aku berfikir kamu tak mampu mencintaiku karna dihatimu hanya ada dia...bukan aku!!!
    Suatu ketika aku dipertemukan kembali denganmu setelah 2 tahun tak jumpa. Getaran hati itu tumbuh kembali ketika engkau hadir, ketika aku dipertemukan kembali denganmu. Hanya dengan 1 hari bisa bersamamu itu menjadi kenangan terindah bagiku. cinta kita dipertemukan seketika itu juga kamu menjelaskan apa yang telah terjadi.
Ku rangkai janji diantara cinta ini...walaupun harus terpisah jarak, tetapkan aku dihatimu, sebaliknya juga.
    Tapi tuhan secepatnya memisahkan jarak diantara kita...Tetap saja aku meyakinkan dia, bahwa tak kan aku hianati dia ketika harus jauh darinya...begitu pula dia, Sebulan sudah kita bersama menjalani hubungan ini dengan jarak yang begitu jauh.tapi entah malam itu kenapa harus terjadi. hanya dengan kesalah fahaman kamu memutuskan hubungan ini begitu saja. Air mata mulai bercucuran, entah aku harus berbuat apa, hanya ingin sendiri dan tetap tak ingin berahir kisah ini.tapi mengapa, mengapa malam itu kamu putuskan untuk meninggalkan aku??!!
    Keesokan harinya, aku masih tak mampu membendung air mata ini. tapi aku tahan, hingga aku merasa kamu tak akan pernah menghubungiku lagi.Tak ada pesan darimu dihanphone ku, tak ada kata-kata sayank lagi, tak ada canda tawamu lagi setelah kamu memutuskanku malam itu. Sepi rasanya malam itu...tak seperti malam-malam biasanya...!!! Pagi itu, tetap aku menunggumu menghubungiku....

Ya tuhan.....
Tak ada sama sekali. yang pagi biasanya kamu mengucapkan selamat pagi, cepat bangun, cepat sholat...tapi kini gak ada sama sekali. setelah kamu putuskan untuk meninggalkanku. Beberapa jam kemudian, disaat aku sendiri merenungkan diri dari keramaian orang.Tiba-tiba handphone ku berbunyi, ternyata pesan darimu, tapi kenapa hanya pesan yang kosong, tak ada kata-kata satupun untukku. Lalu kukirim pesan baru untuknya. tapi tak ada jawaban satupun darimu...aku mulai panik. Setelah sejam kemudian, nomer baru memanggilku. aku jawab, dan ternyata itu pamanmu, paman yang dari dulu tak pernah merestui hubungan kita ini. Setelah sedikit berbincang-bincang dengan pamannya, air mataku menetes. aku tak mampu berkata ketika mereka bertanya ada apa denganku??
Aku tak mampu menjawab. hanya hatiku yang bicara...

‘’TUHAN.............’’
Kenapa....Kenapa.....telefon itu hanya memberi kabar tentangnya?!!
Bahwa dia meninggal karna kecelakaan hari itu juga. dimana dia yang semalam memutuskan hubungan ini, memutuskan untuk diam sebentar untuk meredahkan emosi dia, karna masalah itu. Aku hanya turuti kemauan dia, aku kira dia akan diam sejenak saja, tapi sekarang diamnya untuk SELAMANYA. Aku kira pamannya ingin mengatakan bahwa dia sudah merestui hubungan ini, tapi fillingku salah....salah....!!!

TUHAN..........
Kenapa....Kenapa harus terjadi padanya??!!!
Kabar itu membuatku terjatuh dan menangis menahan ketidak kepercayaanku terhadap semua ini. kamu yang harus pergi untuk selamanya tak memberiku pesan satupun. hanya saja kamu berkata untukku: "Selamanya Aku Untukmu Yank"..... Aku tak menyadari bahwa cintaku itu berahir dan kau meninggalkanku untuk selamanya.

TUHAN............
Kenapa harus dia???!!! Kadang aku memaki diriku sendiri. hingga aku menangis menyesal karena kelakuanku yang membuat hubungan ini hancur. dan karna itu kamu pergi untuk selamanya.....diam pamitmu hanya sejenak, tapi bagimu diam untuk selamanya....

Oh Tuhan....
Dia yang mencintaiku sepenuh hati....sekarang tlah tiada...pergi meninggalkanku untuk selamanya....???
Aku selalu mengingatmu, meski ku tak tahu apakah kamu mengingatku disana....??!! tak ada lagi kamu yang selalu memenuhi inbox-ku, tak ada lagi ucapan selamat pagi untukku, selamat tidur untukku. Tak ada lagi canda tawamu yang selalu mengiriku dalam kebahagiaan, tak ada lagi leluconmu yang membuatku tertawa, tak ada lagi semangat yang membuatku kuat akan setiap masalah yang menghampiriku, kini sekarang ada sesuatu yang hilang, tak sama seperti dulu.
     Tapi aku tetap berharap hari-hariku bisa berjalan dengan mulus tanpa dirimu lagi disisiku. karna aku masih punya keluarga, sahabat, yang bisa menggantikanmu dalam keseharianku yang bisa menggantikanmu memberi semangat untuk aku...tapi Kamu dihatiku tak akan tergantikan hingga TUHAN mempertemukan kita kembali di alam yang engkau tempati sekarang. Aku percaya...TUHAN pasti sedang menguji kesabaranku saat ini, aku yakin pasti ada jalan keluar untuk semua ini. mungkin dimataku kamu yang terbaik untukku, tapi belum tentu kata Tuhan kamu yang terbaik untukku...
      Sampai kapanpun, kamu akan tetap disini bersamaku, walau ragamu tlah tiada...Akan ku kenang dirimu sampai akhir nanti.kamu Tak Akan Tergantikan.
Aku percaya dan yakin bahwa Skenario TUHAN adalah yang Paling Indah bagi kita. Walau dunia kita beda tempat, bayanganmu pun tak bisa kulihat, kuberharap hati kita tetap mengikat.Tunggu aku disana. aku akan menemuimu nanti....cinta ini akan tetap ada disini dihatiku selamanya. walaupun hanya tinggal kenangan disini. Aku akan tetap mengenangnya.Tenanglah dirimu disana,tersenyumlah untukku disana, bahagialah kamu disana.
Dan beri tahu aku, ketika kamu telah bahagia disana. Walupun tak bersamaku lagi....tapi aku yakin, hatimu masih untukku.Tenanglah...aku akan selalu mendoakanmu....karna bagiku,
Mendoakanmu sama saja Memelukmu dari jauh...........

Kamis, 11 September 2014

Doaku...

TUHAN.....Mataku sulit tuk kupejamkan, jiwaku sulit tuk ditenangkan apa yang sedang terjadi aku sendiri tak mengerti. Rasa resah yang teramat sangat menghantui jiwaku ntah pada siapa ku ceritakan gundahku selain hanya pada-MU. Bimbing aku tuk menjadi insan yang sabar, kuat, tabah dalam menjalani ujian-MU....lindungi aku dari orang2 yang ingin berbuat jahat padaku, sesungguhnya diri ini tiada bernilai di mata-MU. Harapan demi harapan selalu ada dalam benak ini ntah kapan harapan itu kan segera terwujud, begitu lelah yang kurasa saat ini. Ampuni segala dosa serta perbuatanku sesungguhnya aku hanya ingin menjadi insan yang selalu disayangi serta dihormati orang lain dengan segala amal perbuatanku yang baik. Jadikan aku insan yang pemaaf dengan segala kesalahan yang diperbuat oleh orang lain terhadapku.

TUHAN....lindungi orang2 yang selama ini kucintai & kusayangi. Dekatkan mereka dalam hati ini, sirami kasih sayang antara kami & jauhi dari segala permusuhan serta perkataan & perbuatan yang tidak baik. Sesungguhnya kami hanyalah manusia biasa yang tak luput dari segala dosa & salah. Sinari hidup kami dengan kebahagiaan, sesungguhnya cinta & kasih sayang-MU yang kami harapkan selalu....ENGKAU lah sebaik2 TUHAN kami yang mengerti akan jalan hidup kami....

Kamis, 04 September 2014

Perasaan...

Asaku semakin mendalam, kecewaku semakin memuncak namun ku hanya bisa terpaku sambil berkata dalam hati mengapa semua ini selalu terjadi??!! Jika semua itu selalu salahku katakan sejak dari pertama tak perlu bersikap seperti itu. Rasa itu sudah semakin ada bahkan sudah lebih dari aku menyayangi diriku sendiri, aku manusia biasa yang juga punya hati & perasaan. Kini ku tak bisa meraihmu untuk mencintaimu, ijinkan walau hanya sekali untuk aku menyayangimu. Semakin hari semakin terungkap semua dustamu, namun ku tak mampu membencimu walau sakit terasa. Maafkan aku....ku harus pergi & terima kasih karena kau aku jadi lebih mengerti apa makna cinta & sayang yang sebenarnya....

Rabu, 27 Agustus 2014

Tentang cinta....

Apa yang telah dipertahankan semua ini adalah untuk mencapai kebahagiaan. Biarkan waktu yang menjaga apa yang dipertahankan, tak ingin menyerah dengan semua yang dilakukan. Kau adalah yang terindah yang pernah kumiliki yang tak bisa diungkap dengan kata-kata. Aku hanya ingin bahagia tanpa harus mengeluarkan air mata tuk yang kesekian kalinya. Terdiam disini tanpa hadirmu membuatku semakin mencekam, ku berharap kau cinta terakhirku.....rasanya sulit jika harus membaginya dengan yang lain. Ku berharap TUHAN memberi jalan yang terindah untukku serta dirimu, semoga....dan semoga....;)

Jumat, 04 Juli 2014

~ Jika Suatu Hari Nanti ~

Tips Dan Trik Berpuasa Sehat Di Bulan Ramadhan

Bagi anda yang sedang mencari tips dan trik agar pusa sehat dan juga agar puasa tetap segar gak lemes saya akan memberikan beberapa tips dan triknya untuk anda. Untuk kalian kaum muslim agar puasanya agar tetap sehat dan juga tetap segar ga lemes nah disini saya akan memberikan tips dan triknya untuk anda, jadi mungkin untuk anda yang sedang mencari beberapa tips dan trik berpuasa sehat dan juga segar sangat pas sekali apabila anda mampir kepostingan saya, langsung saja yach disimak dibawah ini:
Tips Dan Trik Berpuasa Sehat Di Bulan Ramadhan: 
1. Jangan makan sahur dan berbuka terlalu banyak.Ini adalah pantangan pertama. Menurut pengalaman saya, apabila saya makan sahur dan makan buka terlalu banyak. Maka tubuh kita akan menjadi lebih mudah lemas. Hal tersebut dikarenakan setelah makan terlalu banyak maka akan menyebabkan mata mengantuk. Akibatnya kita akan menjadi malas bekerja di pagi hari dan juga malas untuk melakukan aktivitas ibadah yang lainnya.

Selasa, 01 Juli 2014

Sebening Embun


Embun... Aku memanggilnya embun. Titik – titik air yg jatuh dari langit di malam hari dan berada di atas dedaunan hijau yang membuatku damai berada di taman ini, seperti damai nya hatiku saat berada disamping wanita yang sangat aku kagumi, embun.
“ngapain diam di situ, ayo sini rei…” teriakan embun yang memecahkan lamunanku. Aku lalu menghampirinya, dan tersenyum manis dihadapan nya.
“gimana kabarmu embun?”
“seperti yang kamu lihat, tak ada kemajuan. Obat hanyalah media yang bertujuan memperparah keadaanku. Dan lihat saja saat ini, aku masih terbaring lemah dirumah sakit kan?”, Keluhnya

Jumat, 13 Juni 2014

Ibu, Kenapa Aku Tidak Bisa Menikah Seperti Temanku?


Jum'at, 13 Juni 2014 19:14
Vemale.com - Beberapa kali mengajak putrinya ke sebuah pesta pernikahan, ternyata berakhir kepiluan di hati Janice Di Joseph. 25 tahun ternyata masih sulit untuk ibunda Ricchina mengatakan bahwa Ricchina berbeda dengan gadis seusianya. Menerima kenyataan bahwa putri kecilnya mengidap down syndrome tak terlalu menjadi beban dalam hidup Janice, bahkan Ricchina menjadi sumber kekuatannya. Namun untuk mengatakan kepada Ricchina bahwa dia berbeda dengan gadis lainnya, bahkan di usia putrinya yang kini sudah 25 tahun, belum mampu dilakukannya.

Senin, 19 Mei 2014

"WANITA YANG MENCINTAIMU"

Wanita yang mencintaimu.....Kadang kala sosoknya sangat mulia sampai-sampai dia tak perduli "WANITA YANG MENCINTAIMU" dengan luka yang kau berikan untuknya...Kadang kala sosoknya tak anggun tapi percayalah dia mampu menghangatkan jiwamu..DIA SELALU MENANGIS saat kau memupukkan duka di sela harinya. Bukan karena dia cengeng dan sok manja di depanmu tapi itulah batas kemampuannya..DIA SELALU SEDIH saat kau bertingkah acuh tak acuh padanya, bukan karena dia kekanak-kanakan tapi batinnya sering merasa di anak tirikan…

Sabtu, 17 Mei 2014

KERINDUAN.....

Ayah dimana engkau berada???!!!
Disini aku merindukan mu, menginginkan untuk berjumpa
Merindukan akan belaian mu....
Kasih sayangmu selalu ku rindu, engkau selalu hadir dimimpi
Mimpi yang begitu nyata bagiku!!!
Menginginkan engkau untuk kembali,
Aku selalu mengharapkan engkau hadir menemani aku setiap hari,  Menemani masa pertumbuhanku ini...
Aku tumbuh menjadi besar tanpa engkau disisiku...
Tanpa engkau yang menemani hari-hariku,,...
Aku begitu merindukanmu untuk hadir disisiku saat ini....!!!

Sabtu, 22 Maret 2014

Rasa ini....

Katakan padaku bagaimana menggapaimu….. bagaimana mengerti hatimu…. mengerti tentang senyummu… Mengerti tentang tutur katamu… Berhentilah sejenak pernak pernik dunia ini… Tidak adakah arti ketulusan… Tidak adakah arti sebuah kejujuran… Tidak adakah arti sebuah kemurnian… Kau rangkai kata-kata menjadi sebuah cerita….. Setelah tertuang lalu kau campakkan semua…Tampa ada ragu dan pemikiran…Seolah tak ada arti…