Translate

Kamis, 25 September 2014

Jadilah Masa Laluku, Selamanya

    Sekarang aku ingin menghapusnya, menghapusnya dari hidupku, menghapusnya dari fikiranku, dan tentu saja aku ingin menghapusnya dari hatiku, namun itu bukanlah hal yang mudah. Jika tiba saatnya aku telah lupa, ku harap kau tak pernah kembali, izinkan aku menjadikanmu masa laluku.

   Seperti inikah rasanya cinta itu, atau ini bukan lagi dinamakan cinta, mungkin ini hanya sebuah perasaan tak jelas, yang berharap tentang sesuatu yang tak jelas kepada orang yang tak jelas.

  Semula malam itu aku baik baik saja, langit malam pun baik baik saja, masih berbintang seperti biasanya, masih ingin menemaniku dengan kerlap-kerlipnya, namun tiba tiba keindahan itu memudar, kabur dan tak jelas. Ya… aku mulai menyadari semua ketidak jelasan itu, saat percakapan di telfon dengan nya. Tak disangka itu adalah percakapan terakhirku denganya, tepatnya, akulah yang menyebutnya percakapan terakhir, percakapan dengan orang yang entah kapan berhenti membuat hatiku terasa sakit ketika mengingatnya.

      Rifki bukanlah orang yang begitu spesial, dia tidak tampan, tidak hebat, tidak kaya, dan tidak punya sesuatu yang patut dikagumi. Mungkin di dunia ini hanya aku yang mengaguminya, aku mengaguminya, bukan karena prestasinya, bukan karena wajahnya, bukan karena materi, kekagumanku berasal dari caranya merebut hatiku. Pintar.

     Dialah orang yang memberi ku segunung senyuman dua tahun lalu, dan dia juga orang yang melenyapkan gunung itu, dengan sakit yang masih ku rasakan hingga sekarang. Namun entah kenapa aku tak bisa berhenti mengharapkanya. Buktinya sejak dua tahun aku berpisah denganya, belum ada satu pun nama yang bisa menggantikanya di hatiku, layaknya nama itu telah tertancap, begitu dalam, mengakar, dan subur. tapi rifki tak melihat itu, dia hanya tau tentang siapa aku sekarang, ya!, aku adalah masa lalunya, atau mungkin juga dia sudah tak tau lagi siapa aku. Ini begitu membuatku semakin tercekat, perih rasanya.

      Malam itu hujan turun begitu deras, bahkan air sudah mulai menggenang di pekarangan, sudah tak tampak lagi bunga bunga kecil yang mengelilingi tepinya. Aku tak tau, kenapa hatiku menjadi dingin seperti hujan, rasanya begitu basah, hampa. Inikah rindu itu?, rindu tentang sebuah nama, masih nama yang sama, “Rifki”. Entahlah rasanya hanya dia yang bisa membuatku merasa hangat kala itu, aku tak tau apa yang seharusnya aku lakukan, aku tak tau, apa aku harus menghubunginya, atau tetap menahan kehampaan ini, hingga terasa begitu memilukan. Malam itu, aku putuskan untuk menghubunginya.
“Hallo”
“Hallo” ini dia, ini Rifki, suaranya, hatiku begitu akrab denganya, hatiku mengembang, bahagia sekali.
“Hallo”, aku masih mematung, suaraku tak mampu ku keluarkan, udara kali ini benar-benar begitu dingin, hingga mulutku beku, tak sanggup ku gerakkan.
Namun sudah terlambat untuk tetap terdiam, aku tak mungkin biarkan orang di ujung telfon ini bingung atas kediaman ku, aku pompa seluruh keberanianku untuk bersuara kepadanya.
“I MISS YOU” .
“hah, apa?”
Sungguh, aku tak habis pikir, kenapa kalimat itu, dan kenapa hanya itu. Aku tak habis fikir dengan diriku sendiri, begitu menggenaskannya kah aku, hingga tak bisa memilih kalimat lain untuk ku ucapkan. Aku sungguh gugup, tak tau apa yang harus ku katakan selanjutnya, sedangkan rifki di ujung sana tampaknya begitu terkejut mendengar pernyataan ku, pernyataan dari orang yang sudah menjadi masa lalunya.
Aku tak berani untuk berkata lebih banyak lagi, aku putuskan untuk mematikan telfon, lalu sejuta fikiran berkecamuk di dalam benak ku. Apakah rifki akan menanggapi pernyataan memalukan itu dengan serius, atau hanya melupakanya, menganggapnya tidak pernah terjadi. Tidak, aku harus menjelaskanya, tapi bagaimana?, apa yang harus ku jelaskan, dan jangan-jangan rifki membenciku, karena menyatakan hal bodoh seperti itu, aaah sudahlah, biarkan saja, bukan itu yang terpenting saat ini, sekarang aku hanya tak boleh menghubunginya, apa pun itu, baik di media sosial atau telfon, bahkan sms sekalipun. Ku harap dia lupa dengan hari ini.

“semalam kamu nelfon siapa yan?”
“hah, nelfon, maksudnya?”
“iyaa, yang I MISS U itu,”
“ooh, Rifki.”
“lho, Rifki lagi, kok kamu bilang I MISS U sama cowok itu lagi sih, bukanya udah mau ngelupain, oh ya, dia nanggepin ngak?, dia bilang apa?, dia udah punya cewek atau belum sih?…” pertanyaan terakhir itu membuatku terdiam, aku lupa, kalau aku tidak pernah bertanya kepada rifki, apakah sudah ada wanita lain di hatinya, atau belum. Bagaimana aku bisa lupa dengan hal sepenting itu, haah, semua tentang laki laki itu benar benar tak jelas oleh ku.
“woy, yan, yan, hellooo” lambaian tangan Ica membawa ku kembali sadar, setelah lamunan singkat yang membuat perasaan ku menjadi tak menentu ini, benar benar tak menentu.
“yan, mending kamu Tanya dulu deh, sama dia. Dia masih sendiri atau ngak, aku ngerti banget kok, gimana perasaan kamu sama rifki. Dari pada gini trus, serba nggak jelas, lebih baik kamu tanya dulu sama dia, kasian kan, orang orang yang mau ngedeketin kamu, pada kena tolak semua, gara-gara dia”

     Begitulah, sudah seminggu sejak terakhir aku menghubunginya, tak ada tanggapan, tak ada sms, tak ada apa apa. Apa sebenarnya yang terjadi dengan diriku aku sendiri merasa heran, setiap hari setelah malam itu, aku selalu menunggu tanggapan darinya, tanggapan dari ungkapan tulusku yang keluar begitu saja. Namun sepertinya dugaan ku malam itu benar, rifki, tak menganggap kejadian itu pernah ada, mungkin juga dia sudah menganggapku tidak ada. entahlah, mingkin aku yang sudah tak waras, karena berpura-pura tak sadar, bahwa dia sudah benar benar melupakan ku.

Sabtu malam, 28 desember 2013
      “Yan, gimana kabarnya? Maaf ya, aku jarang hubungin kamu, belakangan ini aku sibuk. Kamu ngak marah kan?”
Ada apa ini, rifki tiba tiba menanyai kabarku, ini benar benar tak pernah terbayangkan oleh ku. Bagiku rifki adalah orang yang tak pernah melihat usaha ku untuk bisa dekat denganya, bagiku rifki adalah orang yang benar benar buta tentang diriku, jangankan menanyai kabarku, bahkan belakangan ini aku selalu mengiriminya sms, namun tak pernah ada balasan. Pesan terakhir yang pernah ku terima darinya adalah ketika dia sedang ada di rumah sakit beberapa minggu yang lalu, dan setelah itu nihil. Aku senang, namun juga heran, kenapa sikapnya berubah hangat, ada apa gerangan?
“kabarku baik rif, kamu gimana?”
“aku juga baik yan, oh ya, tahun baru kemana? Ada acara ngak?, kamu mau ngak tahun baruan sama aku?”
Tuhan, kenapa ini semakin membingungkan saja, apa lagi yang akan terjadi selanjutnya. Sikap baik rifki yang begitu tiba-tiba, membuatku benar-benar tak mengerti apa yang harus aku lakukan, akankah aku menerima tawaranya, atau menolaknya. Di suatu sisi aku begitu ingin menerima ajakan spesial itu, tapi aku ragu, karena sejak dua tahu lalu, aku tak pernah sedekat ini dengan rifki. Tiba tiba aku sadar tentang sesuatu, sesuatu tentang rifki, kenapa dia hadir hanya saat ingin meminta sesuatu dariku. Kedatanganya kali ini persis sama dengan saat ia memberitahuku kalau dia ada di rumah sakit, dia memintaku untuk datang kesana, karena tak ada yang menemaninya di rumah sakit, dia meminta ku ini dan itu, dan aku selalu saja memenuhi permintaan-permintaan itu, namun dia selalu tidak ada saat aku membutuhkanya.

     Aku teringat akan perkataan Ica tempo hari, aku harus menanyainya, tentang kejelasan cerita antara aku dan rifki. Aku menjadi begitu penasaran, tentang arti kedekatanku denganya selama ini, aku ingin tau apa arti ajakan ini sebenarnya, apakah dia tak melupakanku, apakah aku masih ada di matanya, dan apakah perasaan dihatinya masih ada untuk ku, ataukah aku hanya pelarianya ketika tak ada yang lain.
“Rif, sebelumnya aku boleh ngomong sesuatu ngak?”
“iya yan, ngomong apa?”
“kenapa sih rif, kamu ada Cuma saat kamu butuh aku aja, nah kalo kamu ngak butuh, kamu cuek?”
“jangan marah marah dong yan.. ngak baik lho, aku ngak cuek kok sama kamu, Cuma aku lagi sibuk aja”
“Rif, aku mau nanya sesuatu sama kamu”
“iya, yan, kamu mau nanya apa?”
“Rif, maaf kalo aku tiba-tiba nanya ini sama kamu, aku pengen tau arti kedekatan kita selama ini, aku pengen tau gimana perasaan kamu terhadapku, aku tau kamu bakalan heran, tapi aku punya alasan sendiri untuk ini, aku akan terima jawaban apapun dari kamu, sekalipun itu menyakitkan. Semua ketidak jelasan ini membuatku lelah” Jari jariku terasa begitu kaku, entah dari mana asal keberanian itu, aku tak tau. Sungguh, kata kata itu mengalir begitu saja, seakan jari-jariku sudah tau ingin menuliskan apa.

    Setelah aku mengirim sms itu, mataku tak lepas-lepasnya memandang ke layar kecil di genggamanku, aku begitu penasaran jawaban apa yang akan dia berikan, aku ingin tau.
“aku ngak ngerti maksud kamu, bisa lebih singkat ngak?”
Sebenarnya aku hanya ingin menyampaikan, kalau aku masih menyukainya, masih adakah aku di hati nya, bisakah aku dan rifki kembali lagi seperti dulu, namun aku tak sanggup seterus terang itu, aku tak seberani itu. Tapi permintaan rifki membuatku sedikit kehilangan kesabaranku, aku tau dia tak sebodoh itu, bahkan kata kataku di sms itu sudah sangat jelas, lalu kenapa dia masih ingin yang lebih singkat?
“ya ampun, rif, aku ngak tau lagi harus ngomong apa, itulah semua yang dapat aku bilang sama kamu, ngak ada yang lebih singkat lagi. Aku Cuma mau bilang, kalo kamu emang udah dewasa, seharusnya kamu ngerti, jawablah dengan caramu, apapun itu aku terima.”
Aku sungguh gemetar saat itu, ini lebih sulit dari yang ku kira, kufikir rifki akan langsung menjawabnya, sehingga aku bisa menentukan keputusan ku selanjutnya, akan mengakhiri ini, atau melanjutkanya. Namun rifki membuat ini semakin sulit. sudah 10 menit aku menunggu, tak jua ada balasan.
“hmm”. Hanya itu balasan rifki atas pertanyaan ku, hanya itukah yang dapat dia tunjukan padaku? pada orang yang sekarang nafasnya terasa berat, padaku yang sudah susah payah memberanikan diri untuk bertanya tentang hal sesensitif itu. Aku tak percaya.
   “Rif, itu bukan jawaban, aku menunggu!” lagi-lagi akulah yang menunggunya, setelah sekian lama, aku selalu dibuat menunggu, dan sekarang dia membuatku menunggu lagi, menunggu kata yang mungkin akan mengecewakan, aku sudah menyiapkan diri untuk hal itu, aku tak takut. Sudah 20 menit berlalu, tak ada apa-apa, rifki tak bersuara. Dia diam bersama malam yang menua. Aku masih menunggu, ini sudah pukul 00:35, aku tak peduli.

Minggu dini hari 01:12,
        masih belum ada tanda apa-apa dari rifki, hatiku begitu sesak, semua kenangan pilu tentangnya kembali menghujaniku, tentang aku yang selalu diabaikan, tentang aku yang masih mengharapkan nya selama 2 tahun, tentang aku yang selalu dibuat menunggu. Aku tak tahan lagi, semua perasaan ku tercurah lewat butir-butir hangat yang mengalir deras, rasanya sakit. Aku sudah menangis sejadi jadinya malam ini, hatiku sedikit lega. Sekarang aku sadar bagaimana perasaanya terhadapku, ternyata dugaan ku selama ini tak ada yang salah, aku benar, aku adalah masa lalunya. Namun hatiku masih belum bisa pergi, ia masih ingin mendengar jawaban rifki, ia masih meronta, akhirnya ku beri dia kesempatan terakhir.
       “Rifki, aku masih menunggu jawabanmu, aku akan menunggu jawabanmu sampai besok pagi, jika kamu tetap diam, terserah lah. Namun semua tindakanmu akan menunjukan siapa kamu sesungguhnya. Thank’s for nothing” Itu adalah terakhir kali aku mengiriminya sebuah pesan, dan tak akan ada lagi pesan yang lain. Aku telah menangis sejadi jadinya malam itu, dan aku tak ingin menangis lagi, aku akhiri. Jika rifki sudah benar-benar menjadikanku masa lalu, lalu kenapa aku tidak. Rasa sakit yang ia tinggalkan, sudah sangat cukup untuk alasan aku melupakanya. Semua tentang laki laki bernama rifki itu sudah tak ada lagi, aku benar benar sudah tak kenal dia, aku tak ingin mengenalnya, dan tak akan mengenalnya kembali.

     Saat ini aku sudah melupakanmu, bahkan hatiku juga, sekarang pergilah, dan jangan kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar